Minggu, 30 Desember 2012

Salah satu jenis fotografi yang saya minati adalah fotografi liputan wedding. Di acara pernikahan, banyak hal yang bisa difoto, misalnya detail, dekorasi acara, makanan, dan tamu yang hadir.
Saya pernah beberapa kali foto di acara wedding, beberapa diantaranya teman dekat atau saudara. Kadang bekerja secara profesional, kadang secara sukarela hehe. Contoh-contoh foto dibawah ini dari acara pernikahan sepupu saya, dimana saya memotret sebagai tamu.
Di acara wedding, bagi saya yang paling penting adalah menangkap momen dan hubungan antar manusia yang bercerita. Maka itu lebih mudah jika kita mengenal sedikit banyak keluarga dan tamu-tamu penting dari pengantin.
Aspek fotografi liputan yang perlu diperhatikan tidak sama dengan jenis fotografi lainnya. Kalau foto liputan yang penting adalah timing, komposisi yang bercerita dan lighting/pencahayaan. Unsur “bercerita” ini penting karena foto liputan pada dasarnya adalah merangkai foto menjadi sebuah cerita. Peran fotografer disini adalah sebagai seorang tukang cerita/storyteller.
Di awal-awal penuangan Champagne, sepupu saya ini wajahnya tegang, namun setelah beberapa saat, menjadi lebih rileks dan bisa tersenyum, saat itu saya jepret. Membuat foto ini perlu kesabaran :)
Ada beberapa ketrampilan yang wajib untuk dikuasai oleh fotografer liputan wedding, antara lain:

1. Foto portrait dan group Portrait

Di acara pernikahaan, fotografter dituntut untuk bisa foto portrait/orang dan mengendalikan cahaya dengan baik. Jika ada kesempatan, pilihlah latar belakang yang menarik tapi tidak terlalu mengganggu pandangan dari subjek utama (orangnya). Kalau bisa hindari pemakaian lampu kilat secara langsung karena cahaya langsung dari flash sifatnya keras dan menyilaukan orang yang difoto.
Sama halnya dengan mengendalikan lampu video (halogen). Hindari menyinari subjek secara langsung. jika Ada yang memakai kacamata, pantulannya akan menutupi mata (glare). Sebaiknya lampu kilat/video dipantulkan ke langit-langit dulu sehingga kualitas cahaya lebih halus.
Foto keluarga merupakan tradisi setelah resepsi. Sekilas foto ini bagus. Tapi setelah diperiksa secara seksama, ada pantulan/glare di kacamata pengantin pria. Ini akibat dari sinar lampu video(halogen) yang diarahkan secara langsung

2. Menyeimbangkan lampu kilat dengan lingkungan

Keterampilan yang penting dalam fotografi pernikahan adalah mengetahui dasar fotografi dan dasar lighting. Merupakan bencana kalau sang fotografer hanya bisa mengunakan mode AUTO. Mengendalikan lampu kilat di mode manual juga sangat penting. Seringkali saya melihat fotografer yang mengunakan merek flash yang tidak semerek dengan kameranya. Yang tidak semerek biasanya penghitungan AUTO/TTLnya tidak akurat. Sehingga fotografer harus mengendalikan kekuatan flash dengan mode manual.
Di dalam kondisi cahaya yang kurang baik, jangan ragu untuk mengunakan ISO yang tinggi seperti ISO 1600 dan bahkan ISO 6400. Memang, foto di ISO tinggi tidak begitu bagus, tapi hasil cetak ISO tinggi kamera digital generasi sekarang itu sangat baik. Saya pernah cetak besar (20×30″) foto ISO 1600 dan pernah cetak foto ukuran 10R dengan ISO 6400 hasilnya masih sangat baik.
Acara wedding bukan hanya milik pengantin saja, tapi juga kerabat dan tamu-tamu lainnya. Foto ini menggambarkan keceriaan tamu. Untuk membuat foto seperti ini, keterampilan menyeimbangkan cahaya yang jatuh ke subjek dan juga latar belakang sangat penting. Jika tidak, latar belakang terlalu gelap, atau orang-orangnya terlalu gelap.

3. Timing dan komposisi yang bercerita

Tugas yang paling berat bagi fotografer wedding adalah memotret saat yang tepat dengan sudut pengambilan dan komposisi yang tepat. Untuk mendapatkan foto yang momennya bagus, kita harus rajin mengantisipasi dan selalu siap sedia. Kesabaran juga sangat penting. Tidak ada artinya foto berturut-turut layaknya mengunakan senapan mesin jika momennya tidak bagus. Daripada 1000-2000 foto yang biasa-biasa saja, lebih baik 100-200 foto yang timingnya pas.
Momen yang tepat ditambah dengan komposisi yang bagus, akan membuat foto lebih kuat lagi. Komposisi yang baik adalah komposisi yang selain subjek fotonya menarik, latar belakangnya juga mendukung. Subjek foto dan latar belakang seakan-akan bercerita tentang apa yang terjadi malam itu dengan jelas dan menarik.
Adik pengantin pria sedang digoda oleh penyanyi. Di latar belakang, pengantin wanita dan ibunya mengintip sambil tertawa melihat aksi penyanyi nakal tersebut.

4. Editing dan manajemen foto (post processing)

Tidak semua foto perlu di edit habis-habisan. Menguasai proses editing bagi saya perlu misalnya untuk mengkoreksi terang gelap, warna, distorsi lensa, kroping dan kontras. Saya berupaya tidak terlalu mengubah warna dan isi foto supaya hasilnya tetap bisa mencerminkan kejadian pada saat itu. Sehingga 10 tahun kedepan, saya berharap pengantin, keluarga dan tamu bisa mengingat keadaan saat itu dengan mudah. Sekitar 95% foto saya lakukan dengan Adobe Photoshop Lightroom (versi terbaru 4.2).
Pengantin wanita terlihat bahagia menatap pengantin pria. Di latar belakang, orang tua dan saudara dari pengantin bernyanyi di resepsi pernikahan
Untuk jadi fotografer pernikahan tidak mudah bukan? Tapi juga tidak terlalu sulit.

0 komentar :

Posting Komentar